Social Icons

Friday, April 12, 2013

Ex Mata-mata Korut Pembunuh 115 Orang Yang Membelot Ke Korsel


Kehidupan wanita ini setiap harinya diliputi ketakutan. Dia khawatir suatu saat persembunyiannya di Korea Selatan diketahui oleh para agen intelijen Korea Utara. Jika tertangkap, riwayatnya dan keluarganya bisa tamat.


Dari suatu tempat di Korsel, Kim Hyun-hee, mengatakan bahwa dia menjadi incaran lantaran pemerintahan Korut khawatir rahasia intelijen dan mata-mata mereka bocor. Kim adalah agen yang telah meledakkan pesawat maskapai Korsel KAL 858, menewaskan 115 orang penumpang tahun 1987.

Kepada Daily Mail, Rabu 10 April 2013, Kim mengatakan bahwa saat itu dia menjalankan misi bersama mata-mata senior Korut Kim Seung-il, yang berperan sebagai ayahnya. Mereka naik pesawat tersebut dari Eropa menuju Bahrain. Saat itu usianya baru 25 tahun.

Mereka turun pesawat setelah sebelumnya menanam bom dalam radio yang disembunyikan di rak kabin. Bom tersebut menewaskan 115 orang penumpang dan awak pesawat.
Di Bahrain, mereka tertangkap karena memiliki paspor palsu. Dalam penyelidikan selanjutnya, diketahui keduanya adalah pelaku pengeboman KAL 858.
Saat tertangkap, keduanya mencoba bunuh diri. "Ayah" palsunya tewas setelah menenggak pil racun sianida, namun Kim berhasil diselamatkan dan diterbangkan ke Korea Selatan.
Saat dalam perjalanan itulah, dia sadar telah dicuci otaknya oleh pemerintahan Korut.

Tiba di Seoul dia kaget saat melihat kota yang berbeda dengan apa yang diceritakannya selama ini. Dalam propaganda Korut, Seoul adalah kota setan yang penuh kekacauan.
"Saya mendengarkan para agen berbicara sangat bebas. Ini berbeda dengan apa yang saya dapat di Korut. Saya sadar telah membunuh nyawa tidak berdoa dan akan menerima hukuman mati," kata Kim.

Di luar dugaan, pengadilan Seoul memaafkan dia karena menganggapnya telah dicuci otak. Akhirnya dia hidup di Korsel, telah berkeluarga dan memiliki dua anak.

Dididik Sejak Kecil Kim mengaku telah dididik menjadi mata-mata sejak kecil. Kala itu, wanita yang dijuluki Mata Hari-nya Korut ini dipilih karena berparas cantik. Dia ingat betul saat itu dijemput saat sedang sekolah.

"Suatu hari sedan hitam muncul di sekolah saya. Mereka dari Partai Pusat dan bilang kalau saya terpilih. Saya bahkan tidak diberi waktu untuk mengucapkan perpisahan pada teman-teman saya. Saya hanya diberi semalam untuk bertemu keluarga saya," kata dia.

Tahun 1980, dia menjalani latihan mata-mata di sebuah pegunungan terpencil. Di tempat ini, dia diajarkan ilmu bela diri dan menggunakan senjata. Di otaknya, ditanamkan paham kebencian pada Korsel dan menjunjung tinggi pemimpin Kim Il-sung.

"Saya diajarkan, Kim Il-sung itu adalah tuhan. Kami diajarkan untuk mengedepankannya dibanding orangtua," kata dia.

"Kita juga harus berterima kasih pada dia untuk semuanya. Jika kau berkata salah, bahkan jika tidak sengaja, kau akan dipenjara. Korea Utara bukan negara, tapi sekte pemujaan," lanjutnya lagi.
Share on :