Social Icons

Saturday, June 1, 2013

Sejarah Tendangan Penalti Chip


Pernahkah Anda menyaksikan seorang pemain bola melakukan sepakan tendangan penalti yang sangat brilian, dengan cara melakukan chip bola? Sungguh merupakan suatu ide brilian yang membutuhkan keberanian, timing dan penempatan bola yang akurat.

Eksekusi penalti dengan cara melakukan tendangan chip yang mengarah ke tengah gawang, pertama kali diperkenalkan mantan gelandang Timnas Cekoslovakia, Anontin Panenka. Tendangan ini pertama kali dilakukan pada Piala Eropa 1976.



Cekoslovakia akhirnya mencapai babak final setelah memenangi adu tos-tosan dari titik penalti dengan mengalahkan Jerman Barat. Setelah babak tambahan berakhir, kedudukan tetap sama kuat 2-2, akhirnya untuk kali pertama adu penalti dilakukan di Piala Eropa.

Saat itu, tujuh penendang penalti dari kedua tim membuahkan hasil. Sampai akhirnya penendang keempat Jerman Barat, Uli Hoenes, sepakannya di atas mistar gawang.

Saat kedudukan 4-3, Panenka, melangkah maju sebagai penendang penalti kelima Cekoslovakia. Untuk menjadi juara, tekanan tentu sangat besar. Namun dengan penuh percaya diri Panenka mempertontonkan aksinya.

Kiper Jerman Sepp Maier melompat ke kiri, sedangkan Panenka melakukan tendangan chip mengarah ke tengah gawang. Para wartawan yang menyaksikan gol tersebut menjuluki Panenka ‘seorang penyair ‘.

Sejak saat itu, gaya mencetak gol ala Panenka menjadi salah satu taktik yang dikenal sepanjang sejarah. Panenka sendiri ketika ditanya asal muasal melakukan tendangan itu, mengatakan dari sebuah ketidaksengajaan.



“Belum pernah ada yang melakukan tendangan seperti itu sebelumnya. Saya datang dengan ide tersebut karena sebelumnya pernah latihan dengan kiper klub Bohemian Praha, Zdenek Hruska,” ujarnya dikutip dari wikipedia.

“Untuk membuatnya menarik, kita gunakan untuk bertaruh bir atau sebatang cokelat pada setiap hukuman. Sayangnya, karena ia adalah penjaga yang baik, saya akhirnya kehilangan uang karena ia terus mampu menyelamatkan gawang,” tambahnya.

Akhirnya, Panenka terjaga di malam hari dan berpikir bagaimana bisa mencetak gol dengan gaya lain. Panenka menyadari bahwa penjaga gawang selalu menunggu sampai sebelum saat-saat terakhir untuk melompat mengantisipasi ke mana bola diarahkan.

“Kemudian saya memutuskan bahwa itu (ide mencungkil bola) mungkin lebih mudah untuk mencetak gol. Akhirnya saya coba beberapa kali dan berhasil. Satu-satunya masalah adalah bahwa saya semakin gemuk karena aku memenangkan kembali semua bir dan cokelat,” gurau Panenka yang kini telah berumur 63 tahun.(rif/tribunnews)

Share on :

No comments:

Post a Comment