Social Icons

Sunday, June 30, 2013

Sayur dan Buah Berpestisida Bikin Pria Menjadi Feminim



Makanan akan menentukan masa depan seseorang, terutama dari segi kesehatan bila dikonsumsi secara berlebihan. 

Makan sayur dan buah-buahan yang mengandung pestisida, maka bisa menyebabkan demaskulinisasi pada pria atau berkurangnya sifat-sifat maskulin pada pria. 

Demikian dijelaskan Pakar Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) Ahmad Sulaeman beberapa waktu lalu.

Ditambahkan Ahmad, sebelum penggunaan pestisida menjadi masif di Indonesia, jarang ditemukan pria yang berperilaku feminim atau biasa disebut "kemayu". Namun, setelah pestisida menjadi hal yang wajib disemprotkan dalam produk pertanian, semakin banyak pria yang kehilangan sifat maskulinnya.

"Dalam sebuah percobaan [pemberian pestisida] pada tikus ditemukan, tikus jantan tidak lagi 'berselera' pada tikus betina," kata Ahmad.

Demaskulinisasi pria mulai terjadi sejak di dalam kandungan. Si ibu kemungkinan besar tidak menjaga makanannya. Bila ibu hamil kerap mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan berpestisida -terutama pestisida jenis DDT dan Dieldrin yang mengandung antiandrogenik yang menumpuk- maka di masa depan bisa membentuk seorang pria menjadi feminim.

"Bahkan, kalau terus-menerus lima sampai 30 tahun akan mengalami apa yang disebut dengan demaskulinisasi, yaitu hilangnya sifat-sifat maskulin pada anak lelaki tersebut," kata Ahmad.

Maka dari itu, kata Ahmad seorang ibu hamil harus betul-betul memilih asupan yang tepat. Bahkan kehati-hatian dalam memilih makanan harus dilakukan sejak masa prakonsepsi (masa perencanaan kehamilan).

Tak hanya menyebabkan pria menjadi feminin, konsumsi buah dan sayur yang mengandung zat antiandrogenik bisa mengganggu organ reproduksi janin. Alat kelamin pria cenderung tidak berkembang secara sempurna. "Bahkan juga bisa menyebabkan gugur spontan apabila sejak pengantin baru tidak mempersiapkan makanan yang baik dan mengkonsumsi makanan mengandung pestisida antiandrogenik," kata Ahmad.

Salah satu buah yang menurut Ahmad wajib diwaspadai adalah jenis apel impor. Menurut Ahmad, apel-apel dari luar negeri cenderung sudah melalui proses pengawetan. Apel-apel tersebut dilapisi lilin yang mengandung fungisida jenis vinclozolin. Jenis fungisida ini, kata Amad bersifat antiandrogenik.

Ahmad menilai pemerintah harus memberikan pengawasa lebih terhadap masuknya apel impor ke Indonesia. Meski sudah ada Peraturan Menteri Pertanian 88/2011 tentang Pengawasan Keamanan Pangan Segar dan Tumbuhan di pintu masuk dan keluar bandara, namun tetap saja masih terjadi kecolongan. Terlebih lagi volume impor yang sangat banyak tidak ditunjang dengan sumber daya manusia yang bertugas mengawasi buah impor tersebut.

"Lalu produk impor juga harus dipastikan dan perlu diawasi tidak masuk langsung masuk, dilihat dulu residunya. Kalau residu di bawah ambang batas ya boleh masuk. Kalau enggak, harus ditolak," kata Ahmad

Sementara terhadap sayur dan buah di Indonesia, Ahmad berpendapat pemerintah harus mengawasi penggunaan pestisida. Menurut Ahmad penggunaan pestida sebenarnya diperbolehkan asalkan tidak melebihi dosis yang semestinya. Juga, kata Ahmad pada masa panen hendaknya tidak lagi disemprotkan pestisida.

"Pemerintah, dalam bertani harus menerapkan good agricultural pestiside. Cara bertani baik dan benar yang kalaupun menggunakan pestisida yang benar. Bahkan lebih bagus jangan gunakan pestisida. Organik saja, lebih baik lagi," kata Ahmad.

Share on :

No comments:

Post a Comment